Salmonella – Shigella

Bahan buangan sebagian besar adalah persediaan air dari masyarakat yang sesudah dikotorkan dengan berbagai kegunaan, dan terdiri dari gabungan air dan kotoran yang terbawa air dari tempat – tempat kediaman, gedung – gedung dan lembaga – lembaga usaha ditambah dengan limbah industri dan tanah, air permukaan dan air hujan yang mungkin masuk ke saluran pembuangan.

Kotoran buangan dari rumah adalah campuran yang kompleks, dari mineral dan bahan – bahan organic dalam berbagai bentuk termasuk partikel – partikel benda padat besar – kecil yang terapung dan dalam bentuk suspensi, disperse koloid dan pseudokoloid dan larutan. Bahan buangan juga berisi organisme hidup dalam jumlah tinggi, terutama bakteri.

Flora air buangan terdiri dari bakteri aerob, anaerob dan fakultatif anaerob. Bakteri terdiri dari bakteri tanah dan alat pencernaan manusia. Contohnya Streptokokki fekal, Clostridium perfringens, Salmonella, Shigella, mikrokoki, Pseudomonadaceae, dan Lactobacillaceae. Dengan demikian air buangan merupakan sumber pathogen manusia yang potensial terutama yang berasal dari pencernaan (usus). Air buangan memegang peranan yang paling penting dalam mengkontaminasi air dan makanan.

Pada kali ini kita akan membahas cara pengujian bakteri Salmonella- Shigella pada berbagai sampel. Bakteri Salmonella – Shigella merupakan salah satu jenis bakteri enteropatogenik yang dapat menyebabkan infeksi gastrointestinal atau penyebab penyakit pada saluran pencernaan, seperti tipus oleh Salmonella typhi, paratttipus oleh Salmonella paratyphus dan disentri oleh Shigella dysentriae. Keberadaan jenis –jenis bakteri tersebut pada air minum yang terkontaminasi limbah dapat menyebabakan wabah penyakit yang perlu ditanggani secara serius. Salmonella terutama sangat banyak terdapat alam alat pencernaan orang baru sembuh dari salmonelosis. Shigella sering dipindahkan melalui makanan. Disentri basiler atau shigellosis dapat disebabkan oleh spesies Shigella dysenteriae, S.boydii, S.sonnei dan S. flexneri. Penyakit ini adalah suatu infeksi akut dari usus, menyebabkan diare dan kotoran berdarah yang mengandung mucus. Waktu inkubasi biasanya kurang dari 4 hari, tetapi dapat pula selama 7 hari. Gejala : demam dan kejang. Organisme ini dipindahkan dengan cara yang sama seperti Salmonella. Dari ketiga spesies Shigellae : S. dysenteriae adalah satu- satunya yang mampu menghasilkan eksotoksin, tetapi kurang lazim terdapat dibandingkan kedua spesies lain.

Bakteri enteropatogenik umumnya terdapat dalam sampel air, makanan atau minuman dalam jumlah yang sedikit, namun jumlah tersebut sudah cukup untuk dapat menimbulkan penyakit. Karena pengujian kuantitatif pada bakteri ini terkadang tidak terdeteksi, maka pengujian kuantitatif pada bakteri ini dilakukan dengan uji kualitatif, yaitu melalui beberapa tahap untuk memperbanyak jumlah bakteri tersebut sehingga memudahkan untuk mendeteksi dan mengisolasinya. Tahapan dari pengujian bakteri Salmonella – Shigella ini antara lain Tahap perbanyakan, tahap seleksi, tahap isolasi, identifikasi primer dan identifikasi lengkap. Tetapi pada praktikum kali ini, kita hanya akan menguji sampai tahap seleksi saja.

Pada tahap perbanyakan ( enrichment ), dapat dipilih 3 macam medium perbanyakan , yaitu Selenite F, Selenite Cystine dan Tetrathionate Broth. Tetapi pada tahap ini kita menggunakan Tetrathionate Broth. Dimana 9 mL medium ini dimasukkan dalam tabung reaksi dan kedalam medium ini dimasukkan 1 mL sampel sehingga pengenceran 10-1. Kemudian kultur ini diinkubasikan selama 12 – 16 jam pada suhu 350C, waktu inkubasi tidak boleh lebih dari 16 jam, hal ini dikarenakan pertumbuhan Salmonella akan kalah dengan bakteri jenis koliform, dimana pertumbuhan koliform menjadi dominan.

Setelah inkubasi, maka kedalam medium perbanyakan dicelupkan ose dan menggoreskannya pada cawan petri yang telah berisi ( SS – agar ) secara kuadran. Hal ini dimaksudkan agar koloni – koloni yang tumbuh akan menyebar dan terpisah. Setelah itu diinkubasikan selama 1 hari pada suhu 350. Kemudian diamati koloni yang terbentuk dari warna koloni yang tumbuh. Jika koloni tersebut keruh atau bening, tidak berwarna ( bagian tengah mungkin berwarna hitam ), maka koloni tersebut adalah Salmonella. Sedangkan jika koloni yang tumbuh keruh atau bening dan tidak berwarna, maka koloni tersebut Shigella.

Setelah itu, inokulasikan isolate bakteri dari SS – agar pada agar miring TSI, kemudian inkubasi pada suhu 350C selama 24 jam. Dari pengamatan, didapatkan hasil bahwa pada agar miring dengan mengisolasi bakteri dari limbah rumah tangga pada bagian bawah agar miring berwarna pink dan bagian atas berwarna kuning, keruh dan bau. Bau ini kemungkinan berasal dari gas H2S yang dihasilkan oleh Salmonella. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa pada limbah rumah tangga terdapat bakteri Salmonella dan Shigella. Oleh karena itu sangatlah penting dalam menjaga sanitasi pada proses pengolahan makanan dan juga proses harus dilakukan proses penanganan limbah sebelum dibuang ke lingkungan sekitar.

Related post