Limbah
Air merupakan suatu kebutuhan yang tidak dapat ditinggalkan untuk kehidupan manusia, karena air diperlukan untuk bermacam-macam kegiatan seperti minum, pertanian, industri, perikanan, dan rekreasi. Air merupakan carrier (pembawa) penyakit yang lebih banyak dibandingkan makanan. Kebutuhuan air umumnya diambil dari air permukaan. Air ini perlu diberi perlakuan untuk menghilangkan bahan-bahan limbah serta menghilangkan dan mengntrol kontaminasi. Pemberian perlakuan pada air umunya terdiri dari tiga tahap yaitu flokulasi (koagulasi), filtrasi dan klorinasi. Perlakuan ini dapat menghilangkan epidemi penyakit infeksi yang berasal dari air sehingga air menjadi aman untuk manusia dan aman untuk mencuci makanan atau untuk campuran makanan. Air dalam pengolahan makanan merupakan kebutuhan yang sangat vital sehingga sanitasi terhadap air perlu mendapat penanganan yang sangat serius. Air dapat digunakan sebagai bahan produksi maupun sebagai medium pendingin atau pemanas. Air yang telah digunakan dalam proses produksi pengolahan pangan kemudian dibuang ke berbagai tempat seperti sungai, selokan, ataupun laut. Air tersebut telah menjadi limbah cair yang memiliki karakteristik fisik yang berbeda dengan air murni. Limbah cair tidak hanya dihasilkan oleh industri pangan saja juga dihasilkan oleh industri lainnya, rumah tangga, kegiatan pertanian, peternakan, dan perikanan. Limbah merupakan hal yang harus ditangani dengan serius dalam rangkaian kegiatan produksi dalam suatu industri terutama pada industri pangan.
Hampir semua industri pangan menghasilkan limbah baik itu wujudnya limbah cair, padatan maupun gas. Permasalahan limbah di Indonesia masih merupakan masalah yang sering banyak terjadi dan efeknya sangat merugikan terutama pencemaran terhadap lingkungan baik tanah, air, maupun udara. Dalam indutsri pangan yang memiliki tata letak pabrik yang baik dan telah memenuhi syarat GMP (Good Manufacture Product) wajib memiliki suatu bagian atau departemen mengenai penanganan dan pengolahan limbah yang dihasilkan dari proses produksi. Sehingga dengan adanya penanganan dan pengolahan limbah yang baik dan terjaga, maka limbah yang dihasilkan sebelum sampai di lingkungan kondisinya sudah aman dan tidak mengandung bahan atau zat yang berbahaya terutama bagi kesehatan manusia.
Pengawasan terhadap pengolahan dan penanganan limbah ini harus dilakukan dengan baik dan terkontrol. Di mana sistem pembuangan air limbah tidak boleh mengkontaminasi tanah dan suplai air. Sistem pipa atau saluran juga harus baik. Fasilitas kamar kecil harus cukup dan persediaan air harus baik. Dalam kaitannya dengan industri pengolahan pangan limbah yang banyak dihasilkan adalah limbah dalam wujud cair dan tidak sedikit pula limbah yang berwujud padatan dan gas. Akan tetapi dalam hal ini yang akan disorot lebih dalam yaitu limbah cair. Limbah cair yang dihasilkan mengandung padatan tersuspensi maupun terlarut, akan mengalami perubahan fisika, kimia, dan hayati yang akan menghasilkan zat beracun atau menciptakan media untuk tumbuhnya kuman dimana kuman ini dapat berupa kuman penyakit atau kuman lainnya yang merugikan baik pada tahu sendiri ataupun tubuh manusia. Limbah cair hampir semua dihasilkan oleh semua jenis industri pangan baik itu skala kecil maupun besar yang tentunya sudah jelas pasti menghasilkan limbah dengan jumlah yang sangat banyak setiap harinya. Hal yang penting dan bermanfaat jjika limbah cair yang dihasilkan diuji dan diteliti guna pengetahuan tentang limbah dan bahayanya. Dalam hal ini yang diamati atau yang diuji adalah mengani karakteristik dari sifat fisik beberapa limbah cair yang sering terdapat di lingkungan sekitar kita. Limbah yang menjadi sorotan dan menjadi sampel dalam pengujian ini adalah air kolam, limbah industri tahu, limbah rumah tangga, air selokan yang nantinya dibandingkan dengan karakteristik air bersih yang sering kita konsumsi. Kriteria yang diamati terhadap limbah di atas tersebut adalah tingkat keasaman pH, suhu, warna, bau, dan endapan. Pengamatan tingkat keasaman atau pH pada limbah dengan menggunakan alat pH meter buat bisa juga dengan menggunakan kertas lakmus. Selanjutnya untuk suhu diukur dengan menggunakan termometer. Untuk bau dibandingkan dengan air bersih dalam kemasan. Air bersih yang digunakan adalah air mineral dalam kemasan. Endapan pada limbah ditentukan dengan melakukan proses penyaringan dengan menggunakan kertas saring. Endapan yang tersaring pada penyaringan selanjutnya dikerongan pada oven T = 1000C selama 15 menit. Endapan kering yang terbentuk selanjutnya ditimbang.
Berdasarkan hasil pengamatan terlihat bahwa pH atau tingkat keasaman dari limbah cair yang aiuji memiliki nilai pH yang berbeda. Nilai pH dari limbah rumah tangga dan limbah tahu memiliki nilai pH yang lebih rendah dari pH air normal ( 6 – 7) sedangkan untuk air minum dalam kemasan memiliki pH 6,46. Untuk nilai pH dari limbah tahu adalah 4.6 dan untuk limbah rumah tangga 5.07. Ternyata nilai pH limbah tahu lebih rendah dari pada limbah rumah tangga. Limbah tahu lebih asam dari pada limbah limbah rumah tangga karena pada pembuatan tahu ditambahkan larutan asam asetat atau cuka, sehingga limbah yang dihasilkan lebih asam yaitu pH 4.6. Limbah cair rumah tangga lebih tinggi pH-nya karena limbah yang dihasilkan telah tercampur dengan zat atau bahan yang memiliki nilai pH lebih basa, misalnya limbah rumah tangga yang berasal dari sisa air bekas mencuci piring atau baju. Meskipun demikian tetap nilai pH-nya masih dibawah nilai pH normal atau netral. Kondisi pH akan mempengaruhi rasa, korosivitas air, dan efisiensi klorinasi.
Untuk pengamatan suhu pada limbah menggunakan alat termometer. Termometer yang diguanakn adalah termometer biasa pada skala paling tinggi 1000C. Pengukuran suhu ini berlangsung dalam ruangan yang sama sehingga suhu limbah yang diamati tidak berbeda jauh dari suhu kamar. Suhu air mineral (bersih) 30.30C, suhu limbah tahu 30.30C, dan suhu limbah rumah tangga suhunya lebih tinggi sedikit yaitu 30.40C. Sehingga untuk pengukuran suhu ini tidak terlalu memberikan perbedaan yang mencolok. Suhu pada limbah cair dapat mempengaruhi kadar oksigen terlarut. Kenaikan suhu mengakibatkan penurunan kadar oksigen terlarut. Kadar oksigen terlarut yang terlalu rendah akan menimbulkan bau tidak sedap akibat terjadinya degradasi anaerobik.
Pada pengamatan terhadap warna limbah yang dibandingkan dengan warna cairan dari aquades. Warna limbah memang sangat berbeda dengan warna aquades. Warna air dalam minum kemasan hampir sama dengan warna air aquades. Warna pada limbah tahu adalah putih keruh kekuning-kuningan dan warna limbah rumah tangga adalah putih keruh kekuningan dan terdapat hewan kecil yang terdapat limbah tersebut yaitu belatung. Belatung ini tumbuh secara alami pada limbah karena pada limbahnya terkandung nutrisi yang cukup untuk dia tumbuh hidup. Hampir semua warna pada limbah adalah keruh dan kotor bahkan ada yang berwarna hitam gelap. Warna pada limbah dapat ditimbulkan oleh kehadiran mikroba bahan-bahan tersuspensi yang berwarna dan oleh ekstrak senyawa-senyawa organik serta tumbuh-tumbuhan. Pada kondisi limbah yang sudah busuk sekali maka mikroba yang terdapat dalam limbah tersebut sangat banyak sekali dan melakukan aktifitas hidupnya. Akibat dari adanya aktifitas mikroba ini, maka warna limbah akan menjadi keruh, kotor dan bahkan berwarna. Warna pada limbah ini kemungkinan terjadi karena adanya senyawa-senyawa organik yang jika dilakukan proses klorinasi terhadap air tersebut akan mengakibatkan peningkatan pertumbuhan mikroba air.
Bau pada limbah cair terbentuk dari hasil penguraian bahan-bahan yang terdapat dalam limbah oleh aktifitas mikroba pembusuk. Makin bau limbah, maka aktifitas mikroba pembusuk dalam limbah tersebut makin banyak jumlahnya. Bau pada limbah bisa juga timbul karena kehadiran mikroba dalam air seperti algae serta oleh adanya gas seperti H2S yang terbentuk dalam kondisi anaerobik, dan adanya senyawa-senyawa organik tertentu. Bau pada limbah tahu tercium lebih asam dan sangat berbeda dengan bau air bersih. Air bersih tidak tercium bau busuk sama sekali. Sedangkan untuk limbah rumah tangga baunya sangat busuk karena sudah terdapat aktifitas hewan pembusuk atau pengurai yaitu belatung. Hal yang dibenci oleh masyarakat terhadap limbah selain kotot adalah mempunyai bau busuk yang menyengat apalagi limbah yang telah busuk dan kotor.
Endapan yang diperoleh pada air minum dalam kemasan tidak ada, sedangkan limbah rumah tangga 0,0963 gr/200 mL dan limbah tahu 0,0366 gr/200 mL. Endapan tersebut dapat berasal dari bahan-bahan yang terlarut dalam limbah dan bahan-bahan sisa hasil pencucian. Ternyata endapan yang terbentuk pada limbah rumah tangga lebih banyak bila dibandingkan dengan endapan yang tebentuk pada limbah tahu. Pada limbah rumah tangga banyak partikel padatan dengan ukuran yang cukup besar seperti sisa nasi, mie instant, sisa bumbu, dll.
Referensi:
Jenie BSL dan Rahayu WP. 1993. Penanganan Limbah Industri Pangan. Penerbit Kanisius.Yogyakarta.
Buckle, K.A., R.A.Edward,G.H.Fleet & M.Wooton 1987. Ilmu Pangan. (H. Purnomo dan Adiono, Penerjemah). UI-Press. Jakarta
Betty Sri Laksmi Jenie. 1987. Sanitasi dalam Industri Pangan. PAU pangan dan Gizi IPB. Bogor