Sifat Fisik Limbah Zat Cair

Sifat fisik limbah zat cair yang mudah terlihat dapat menentukan derajat pengotoran air limbah pertanian. Sifat-sifat fisik yang penting diantaranya adalah kandungan zat-zat padat yang menunjukkan kejernihan air, bau, warna, suhu dan pH. Air sering digunakan sebagai medium pendingin dalam berbagai proses produksi. Air tersebut selanjutnya dibuang ke tempat asalnya seperti sungai atau sumber air lainnya. Air buangan yang mempunyai suhu lebih tinggi dari tempat asalnya dapat menimbulkan beberapa akibat diantaranya jumlah oksigen terlarut (DO) dalam air menurun, kecepatan reaksi kimia meningkat, kehidupan biota air terganggu atau mati.

Nilai pH air terpolusi berbeda-beda tergantung dari jenis buangannya. Perubahan tajam keasaman air limbah ke arah alkali (pH > 7) maupun ke arah asam (pH < 7) dapat mengganggu biota (makhluk hidup) di sekitar tempat tersebut. Air limbah dengan pH asam dapat bersifat korosif terhadap baja dan pipa-pipa besi.

Jumlah endapan pada contoh air merupakan sisa penguapan dari contoh air limbah pada suhu 103 – 105° C. Jumlah total endapan terdiri dari benda-benda yang mengendap, terlarut, dan tercampur.

Pembahasan kali ini adalah pengamatan sifat fisik terhadap beberapa jenis air dan limbah, yaitu: air mineral (Aqua), air kolam, air limbah industri pangan (tahu), aquades dan air limbah rumah tangga.

PH
Aquades dan air kolam memiliki nilai pH yang normal yaitu berkisar antara 6-7. Air limbah rumah tangga memiliki pH yang cukup rendah yaitu 5.07, tahu memiliki pH paling asam 4,6 hal ini disebabkan karena pada saat pengolahan digunakan asam. Seharusnya pada air sisa produksi yang dibuang dinetralkan terlebih dahulu.

Suhu
Suhu air mineral (bersih) 30.30C, suhu limbah tahu 30.30C, dan suhu limbah rumah tangga suhunya lebih tinggi yaitu 30.40C. . Suhu pada limbah cair dapat mempengaruhi kadar oksigen terlarut. Kenaikan suhu mengakibatkan penurunan kadar oksigen terlarut. Kadar oksigen terlarut yang terlalu rendah akan menimbulkan bau tidak sedap akibat terjadinya degradasi anaerobik.

Warna
Pada umumnya warna dipengaruhi oleh kandungan zat padat terlarut (kotoran-kotoran) yang terdapat dalam air. Bahan buangan juga berisi organisme hidup dalam jumlah tinggi, terutama bakteri. Penguraian benda-benda padat organik terjadi dengan cepat dan menyebabkan bahan buangan menjadi septik (warna hitam dan berbau busuk).

Warna air aqua hampir sama dengan warna air aquades. Warna limbah tahu adalah putih keruh kekuning-kuningan dan warna limbah rumah tangga adalah putih keruh kekuningan dan terdapat belatung.

Bau
Timbulnya bau dan rasa dapat ditimbulkan oleh penghancuran tanaman dari jenis ganggang, senyawa-senyawa klorofenol, limbah industri (pengalengan, pabrik susu), bahan organik dan gas.

Sumber-sumber rasa dan bau di alam antara lain:
• Pertumbuhan mikroorganisme di dalam air yang mengeluarkan bahan-bahan yang menghasilkan rasa dan bau.
• Hasil penguraian (dekomposisi) dari organisme-organisme ini bila terbunuh, atau dari daun-daun, rumput dan tumbuhan air dalam tandon air.
• Tumbuhnya mikroorganisme lumpur yang membentuk lendir, kapang, dan jamur.
• Reduksi sulfat menjadi sulfit dalam air yang tidak mengandung oksigen.

Rasa dan bau terutama timbul pada air permukaan dibandingkan dengan air tanah.
Bau pada limbah tahu tercium asam dan sangat berbeda dengan bau air bersih. Air bersih tidak tercium bau busuk sama sekali. Sedangkan untuk limbah rumah tangga baunya sangat busuk karena sudah terdapat aktifitas hewan pembusuk yaitu belatung.

Endapan
Endapan menunjukkan banyaknya kotoran dan zat padat tidak larut yang terdapat dalam limbah. air limbah rumah tangga dan air limbah industri memiliki jumlan endapan yang terbanyak. Banyaknya jumlah endapan menunjukkan bahwa tidak dilakukan penganangan atau penyaringan sebelum limbah tersebut dibuang ke luar lingkungan.

Jika endapan tidak disingkirkan sebelum pembuangan dapat menyebabkan keadaan yang kurang baik pada aliran, karena benda-benda padat tertentu yang tersuspensi atau mengapung mungkin dapat menghasilkan bau busuk, dapat terjadi terlalu banyak polusi pada danau-danau kecil atau tempat pencerna (digestor)

Endapan yang diperoleh pada air minum dalam kemasan tidak ada, sedangkan limbah rumah tangga 0,0963 gr/200 mL dan limbah tahu 0,0366 gr/200 mL. Endapan tersebut dapat berasal dari bahan-bahan yang terlarut dalam limbah dan bahan-bahan sisa hasil pencucian..

Referensi:

Buckle, K.A., R.A.Edward,G.H.Fleet & M.Wooton 1987. Ilmu Pangan.(H. Purnomo dan Adiono, Penerjemah). UI-Press. Jakarta

Betty Sri Laksmi Jenie. 1987. Sanitasi dalam Industri Pangan. PAU pangan dan Gizi IPB. Bogor

Betty, S.L.J. & Winiati P.R. 1993. Penanganan Limbah Industri Pangan. PAU Pangan dan Gizi IPB. Bogor

Related post