Waxing atau Pelilinan
Waxing atau pelilinan adalah suatu cara melapisi bahan pangan terutama sayur dan buah dengan bahan lilin. Beberapa jenis buah-buahan memiliki lapisan lilin alami pada kulit buahnya (epidermis). Namun, lapisan lilin alami tersebut sebagian akan hilang karena proses pencucian. Lapisan lilin berfungsi untuk mengurangi kehilangan air dan melindungi kulit buah dari luka, apabila lapisan ini berkurang atau hilang maka komoditas akan mudah mengalami kerusakan yang diakibatkan oleh kehilangan air, layu, keriput, dan serangan hama. Untuk itulah dilakukan pelilinan/waxing pada komoditas sayuran dan buah-buahan tertentu.
Pembahasan kali ini dengan melakukan waxing/pelilinan pada komoditas sayuran, dimana sampel yang digunakan adalah : tomat, cabe dan mentimun. Dan dengan mengamati perubahan karakteristik inderawi serta susut berat pada komoditas yang diberi perlakuan pelilinan (utuh dan dilukai) dan yang tidak diberikan perlakuan pelilinan (kontrol sebagai pembandingnya.
Lilin/ wax yang digunakan dalam pembahasan kali ini adalah BRITEX WAX 506 untuk sayuran. Lilin ini digolongkan sebagai Water Wax (Bautista 1990), yaitu terdiri dari wax emulsi dan wax resin. Wax emulsi terdiri dari wax alami dan wax sintesis. Wax ini biasanya banyak mengandung Carnauba. Carnauba dapat memperbaiki penampilan, tetapi kurang baik dalam memepertahankan komoditas dari kelayuan sementara parafin dapat mempertahankan kehilangan air dengan lebih baik. Wax resin merupakan larutan yang terdiri atas satu atau lebih resin basa yang mudah larut atau material seperti resin, misalnya shellac atau resin kayu. Shellac merupakan resin yang berasal dari hewan dan sulit untuk diperoleh. Biasanya wax ini digunakan untuk keperluan lain seperti furniture. Untuk waxing pada buah, larutan shellac yang bersifat alkali dibleaching dengan Natrium Hipoklorit.
Fungsi BRITEX WAX 506 adalah :
• Membatasi kehilangan air
• Memperbaiki penampakan (kilapa dan licin)
• Melindungi kulit buah/sayur dari luka, goresan, dan hama.
• Memperluas fungsi fungisida
• Mengontrol penyusutan bobot
Sayuran yang akan diberi perlakuan waxing dibersihkan terlebih dahulu yaitu dicuci dengan air dan dikeringkan dengan cara dilap dengan tisu ataupun cukup diangin-anginkan. Selanjutnya diberi perlakuan waxing yang dapat dilakukan dengan beberapa metode yaitu :
1. Pencelupan, membutuhkan tangki pencelup dan dan rak pengering dengan ukuran lubang cukup untuk memberikan kontak minimum antara buah dan lubang. Metode ini memelihara dari kehilangan berat.
2. Busa waxing, lilin dirubah menjadi busa. Digunakan dalam ruang pengemas yang menangani sayur dan buah dalam jumlah besar, untuk memperpanjang umur simpan.
3. Penyemprotan waxing.
Namun dalam pembahasan kali ini metode yang digunakan adalah pencelupan dan pengolesan dengan kapas. Hal ini lebih praktis dan ekonomis serta lebih sederhana dibandingkan metode lainnya. Dalam proses pencelupan dan pengolesan keduanya berbeda dalam hal konsetrasi larutan yang akan digunakan, yaitu :
• Untuk pencelupan ; wax : air = 1 : 2
• Untuk pengolesan ; wax : air = 1 :1
Dari hasil dapat dilihat bahwa komoditas yang diberikan perlakuan waxing dari segi penampakan fisik akan terlihat lebih mengkilap dan cerah dibandingkan dengan yang tidak diberi perlakuan.
Disamping memberikan keuntungan, waxing dapat pula mendatangkan kerugian diantaranya :
– Lapisan lilin yang terlalu tebal dapat menghambat pertukaran gas dalam jaringan keluar dan dari luar ke dalam jaringan.
– Tidak dapat diterapkan untuk semua komoditas
Referensi:
Bautista, O.K. 1990. Postharvest technology for Southeast Asian Perishable Crops. University of The Philiphines at Los Banos. Technology and Livelihood Resources Center, Manila.
Kader, A.A. 1992. Postharvest Technology of Horticultural Crops. University of California, Publication No.331. Oakland, CA.
Kartasapoetra, A.G.1994. Teknologi Penangan Pasca Panen. Rineka Cipta Jakarta.
Apandi, Muchidin.1984.Teknologi Buah dan Sayur. Penerbit Alumni.1984.Bandung