Tingkatan Gizi dengan Fortifikasi Zat Besi dan Seng

Fortifikasi zat besi dan seng pada bahan pangan dianggap berpotensi mengatasi masalah anemi zat besi dan meningkatkan pertumbuhan anak. Studi Evaluation of Iron and Zinc Absorption from Fortified Foods in the Diet of Indonesia Children, yang mencampurkan zat besi dan seng pada tepung terigu, menunjukkan bahwa absorpsi zat besi dan seng cukup tinggi. Akan tetapi, penambahan seng sulfat dapat mengurangi absorpsi zat besi. Oleh karena itu, disarankan penggunaan seng oksida. Demikian salah satu hasil penelitian yang dipaparkan pada seminar “Iron and Zinc Fortification into Wheat Flour” di Jakarta.

Penelitian dimaksud dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Gizi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial, bekerja sama dengan International Atomic Energy Agency, Children Nutrition Research Center, Baylor College of Medicine, Amerika Serikat, dan Unicef. Tujuannya, menyediakan data ilmiah untuk mendukung program fortifikasi.

Dalam sambutan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial dr Sri Astuti S Suparmanto MScPH, yang dibacakan Kepala Puslitbang Gizi Drs Arum Atmawikarta MPH, fortifikasi merupakan salah satu strategi dalam meningkatkan mutu gizi konsumsi pangan, di samping suplementasi untuk mengatasi masalah gizi.

Atasi anemia
Anemia merupakan salah satu masalah gizi utama yang prevalensinya tak kunjung turun di Indonesia. Intervensi dalam bentuk tablet besi pada orang dewasa dan sirup besi pada anak berusia di bawah lima tahun (balita) -yang dibagikan lewat pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) dan pos pelayanan terpadu (posyandu)- terbentur pada rendahnya cakupan dan ketaatan dalam mengkonsumsi suplemen itu.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 632/Menkes/VI/1998, tepung terigu yang beredar di Indonesia harus difortifikasi dengan zat besi elemental 60 ppm, seng 30 ppm, vitamin B1 (tiamin) 2,5 ppm, vitamin B2 (riboflavin) 4 ppm, dan asam folat 2 ppm.

Menurut salah seorang peneliti, Dr Susilowati Herman, penelitian dilakukan pada 86 anak sehat dengan gizi baik berusia empat sampai tujuh tahun. Mereka dibagi dalam tiga kelompok. Kelompok pertama diberi kue dari tepung terigu yang difortifikasi zat besi; kelompok II diberi kue tepung terigu dengan zat besi dan seng oksida; dan kelompok III diberi kue tepung terigu dengan zat besi dan seng sulfat. Dalam penelitian digunakan besi dan seng dalam bentuk isotop stabil sehingga absorpsi oleh tubuh bisa diukur.

Hasil penelitian menunjukkan, absorpsi zat besi pada kelompok I dan II cukup baik, masing-masing 15,9 persen dan 14 persen, sedang pada kelompok III turun jadi 11,5 persen. Penyerapan seng sendiri, baik seng sulfat maupun seng oksida, hampir sama.

Mengingat yang digunakan untuk fortifikasi di Indonesia adalah besi elemental-yang diserap oleh tubuh setengah dari besi sulfat-maka direkomendasikan untuk dilakukan penelitian longitudinal, menggunakan tepung terigu yang difortifikasi dengan besi elemental dan seng oksida terhadap status anemi dan pertumbuhan anak. Menurut Ketua Komisi Fortifikasi Pangan Indonesia Ir Suroso Natakusuma, kalangan industri mendukung penetapan wajib fortifikasi tepung terigu. Ketentuan itu akan membatasi beredarnya tepung terigu impor yang kualitasnya lebih rendah dari tepung terigu lokal.

Biaya fortifikasi sebesar Rp 12 per kilogram atau Rp 32 milyar untuk seluruh tepung terigu yang difortifikasi per tahun memang relatif kecil. Namun, industri tidak bisa membebankan kepada konsumen, apalagi di masa resesi, sehingga perlu bantuan. Saat ini ada bantuan dari USAID (AS) dan CIDA (Kanada) untuk fortifikasi tepung terigu. (atk)

Disadur dari :  Kompas, Rabu, 14 Maret 2001 Jakarta

Related post